Sudah umum, jika peminjam memberikan “janji manis” agar dia dapat meminjam, misalnya dengan ucapan “Nanti bensinnya dipenuhin”, atau “Nanti saya isiin bensinnya”. Tak masalah sih jika si peminjam hanya meminjam sekali dua. Tapi bagaimana jika beberapa hari, bahkan tiap hari? Ini seperti yang pernah saya alami tahun lalu.
Saat itu saya masih bekerja pada sebuah vendor PLN. Berhubung jauhnya lokasi tempat tinggal saya dengan kantor PLN dan jam kerja yang tidak menentu, memaksa saya untuk menyewa kamar kost yang dekat dengan lokasi kantor. Karena dekat (sekira 1Km dari tempat kost ke kantor), alhasil saya cukup berjalan kaki saja, dan si Jalu (Jupiter MX 2008) saya “simpan” di rumah. Berhubung tidak ada kendaraan di rumah, si Jalu akhirnya “dipinjam” oleh bapak mertua saya sebagai alat transportasi usahanya (industri rumah tangga, konveksi).
Pada kenyataannya si Jalu tidak hanya digunakan untuk kepentingan usaha saja, si Jalu kerap dipinjam karyawan untuk transportasi pribadi dan kemudian “menginap” di rumah karyawan tersebut. Enam bulan kemudian saya mendapatkan pekerjaan baru (kantor yang sekarang), dan memutuskan untuk tidak kost lagi. Si Jalu “jatuh” di “pelukan” saya lagi. Tetapi si Jalu ternyata sudah “berubah”, lampu-lampu (depan dan belakang) mati, jok berlubang, terdengar berisik pada rantainya, dan ‘ngeloyor’ serta berdecit ketika direm. Akhirnya saya ganti lampu-lampu yang mati tersebut di bengkel umum. Sekaligus mengganti kampas rem depan dan belakang dan mengganti bantalan-bantalan pada roda, juga ganti oli. Saya hanya menggunakan merk lokal saat itu, karena kondisi ekonomi yang sedang tidak memungkinkan
. Beberapa hari kemudian lampu-lampu tersebut kembali mati, saya ganti lagi, beberapa hari kemudian mati lagi.
Dan bodohnya si bengkel ini dia tidak curiga, dan tetap bersikukuh bahwa tidak ada masalah dengan kelistrikan lainnya, walaupun saya sudah berulangkali bilang untuk memeriksa rangkaian kabel dan kelistrikan lainnya. Sampai akhirnya si Jalu tiba-tiba mogok dan mengharuskan saya untuk mendorongnya, untung tidak terlalu jauh. Menurut analisa mekanik bengkel umum tersebut, ada masalah dengan aki, dan harus diganti. Akhirnya saya ganti dengan aki baru plus ganti sekring. Dengan uang untuk pembelian aki harus pinjam ke orang tua lebih dulu
.
Seminggu berlalu, lampu si Jalu kembali mati, bukan itu saja, tiba-tiba saya mencium aroma tidak sedap dari bagian belakang si Jalu. Ternyata oh ternyata, aki si Jalu terbakar, airnya sampai kering bahkan berasap. Terpaksa saya bawa lagi ke bengkel. Tetapi bukan ke bengkel umum yang biasanya, saya coba ganti bengkel. Karena keuangan yang makin kritis, saya tidak berani untuk membeli aki baru lagi, saya manfaatkan aki yang lama (bukan aki yang baru terbakar), setelah disetrum, ternyata si aki masih layak pakai.
Setelah melalui analisa mekanik di bengkel umum yang “baru”, diketahui bahwa ada rangkaian kabel yang konslet, dan aki yang terbakar diakibatkan oleh rusaknya kiprok. Akhirnya kiprok diganti, saya juga cuma pakai yang lokal dengan harga setengahnya dari harga kiprok orisinil. Si Jalu dapat dioperasikan normal dalam beberapa minggu.
Tibalah sampai saatnya gajian, sehari sebelumnya lampu si Jalu sudah kembali mati. Akhirnya saya “seret” lagi si Jalu ke bengkel. Berhubung sedang banyak uang
, saya ajak si Jalu ke bengkel resmi. Saya titipkan si Jalu sementara saya berangkat kerja dengan naik kendaraan umum. Saya berpesan ke mekanik untuk memeriksa intensif bagian kelistrikan dengan sebelummnya menyampaikan keluhan-keluhan si Jalu. Saya juga berpesan agar mengganti semua material yang tidak orisinil dan mengganti semua komponen-komponen yang sudah tidak layak.
Sepulang kerja, saya menuju ke bengkel resmi. Hmm…, banyak juga komponen yang diganti, mulai dari gear set, kampas rem depan dan belakang, kiprok, kabel gas, sampai komponen-komponen kecil karburator. Tetapi ada beberapa komponen “besar” yang tidak diganti, sebelumnya pun sang mekanik telah menghubungi saya untuk konfirmasi, yaitu piringan cakram, dan shock-breaker belakang. Piringan cakram memang sudah cukup dalam coakannya, akibat habis terkikis karena kampas yang sudah sangat tipis. Kalau shock-breaker sih masih cukup layak (itupun diamini oleh si mekanik).
Dari hasil “bolak-balik” bengkel, ternyata dihitung-hitung biaya yang harus dikeluarkan cukup menguras kantong, mencapai Rp1,5juta. Untung saja si Jalu tidak sampai turun mesin.
Wow, karena dipinjamkan dan karena si peminjam cuma berprinsip “Yang penting bensin diisi”, siempunya (saya) harus menanggung kerugian cukup besar dan harus ditanggung sendiri. Oleh sebab itu, akhirnya saya jual si Jalu dan digantikan si Shiro, dengan harapan karena motor baru dan juga berjenis “batangan” yang agak ribet dikendarai (karena kopling manual), akan membuat enggan si peminjam.