Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Arsip tag Shiro

Beginilah Kesiapan 3S nya Yamaha


Aduh, sudah lama sekali blog saya vakum :D Mengingat belakangan ada ektra kegiatan tambahan menjelang peluncuran website baru saya www.inochisoftware.com, yang rencananya akan saya gunakan sebagai lapak jualan perangkat lunak (software) komputer.

INOCHI

Tapi siapa juga yang peduli? :D

Melalui artikel terbaru ini, saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman kepada pembaca mengenai layanan 3S nya Yamaha. Beberapa hari kemarin saya “diingatkan” oleh pihak bengkel Yamaha melalu SMS bahwa sudah saatnya si Shiro dilakukan perawatan. Akhirnya per hari Sabtu, 15 Desember 2012 sayapun membawa si Shiro untuk “medical check-up” :D

Baca tulisan ini lebih lanjut

“Jajan” si Shiro Lumyan Juga


Jum’at sore (5/10/12), sebuah SMS masuk, ternyata dari layanan pelanggan JG Motor (bengkel resmi Yamaha), yang mengingatkan bahwa sudah saatnya si Shiro (V-Ixion 2011) saya sudah harus masuk bengkel untuk servis rutin. Tetapi akhirnya baru hari Senin sempat ke bengkel, kebetulan ambil cuti sehari untuk mengurusi “bisnis” sampingan, jualan jaket :D

Setelah ngobrol ringan, si Shiro di bawa ke “ruang operasi” untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan ringan, termasuk ganti oli dan ganti air radiator, karena umur si Shiro sudah 11 bulan :D

Baca tulisan ini lebih lanjut

Hey, Lampu Belakang si Shiro Mati Lagi, Lho…


Akhirnya, setelah beberapa bulan “menunggu”, lihat artikel sebelumnya: “Si Shiro Ganti Lampu Belakang Lagi“, hari ini, Selasa (10/7/12) lampu belakang si Shiro (Yamaha V-Ixion putih, 11-12) mati lagi. Amazing, sudah tiga kali diganti sejak pembelian akhir Nopember 2011 lalu, dengan yang kali ini, berarti 4 (empat) kali ganti. Hmm, dalam 7 (tujuh) bulan sudah 4 (empat) kali ganti lampu belakang? Kira-kira berapa lampu yang akan “dihabiskan” dalam 3 (tiga) tahun? :lol:
Baca tulisan ini lebih lanjut

Tangki V-Ixion Jangan Dibiarkan “Kosong”!


Pernah saya membaca srtikel di sebuah blog, yang katanya tidak masalah jika sepeda motor injeksi tangkinya dibiarkan “kosong” (kosong di sini artinya bukan kosong sama sekali, melainkan masih tersisa beberapa cc bahan bakar di dalamnya). Penasaran, akhirnya saya uji coba pada si Shiro.

si Shiro

si Shiro

Fuel meter pada hari Senin (04/06/2012) sudah mentok di sisi kiri (huruf E diterabas). Saya kirakan saat itu masih tersisa kurang lebih 2literan bensin di dalam tangki. Tetapi sengaja tidak saya isi ulang. Saya sengaja membiarkan si Shiro “kelaparan”. Hari pertama (Senin) belum ada masalah dengan si Shiro, tidak ada keanehan sama sekali.

Dan, pada hari Selasa (05/06/2012), saya taksir isi “perut” si Shiro tinggal 1literan bensin saja. Sayapun belum berniat untuk memberi “minum” si Shiro. Seperti biasa, pagi-pagi berangkat ke tempat kerja yang harus melewati jalur padat merayap. Sekira menempuh jarak 5-7KM, ada ke anehan pada kaki bagian atas saya.

Wow ada “kehangatan” lebih di bagian atas lutut hingga paha bagian bawah. Penasaran, sayapun berhentikan si Shiro di sisi jalan, saya raba kulit perut tangki si Shiro. Ajaib, ternyata tangki si Shiro puanassss cessssss…

Pompa BB (Fuel Pump)

Pompa BB (Fuel Pump)

Padahal saya perkirakan saat itu “isi perut” si Shiro masih ada sekitar 3/4literan. Akhirnya saya ambil kesimpulan, bahwa pompa bahan bakarlah yang menyebabkan kulit perut si Shiro panas. Berarti bohong yang katanya pompa injeksi tidak butuh cairan (bensin) sebagai media pendingin.

Tidak mau menanggung resiko lebih, sayapun segera menuju SPBU terdekat dan mengisi perut si Shiro sampai muntah penuh.

Mau membuktikan? Cobalah!

Ah, Ternyata Beda Tipis


Sejak Selasa (22/05/2012) si Shiro sudah berhenti “puasa”. Ah lega rasanya bisa ajak si “Shiro” untuk lari lagi :D. Nah, sambil isi ulang tangki si Shiro, melirik ke arah trip meter. Untuk pengujian terakhir kali ini ternyata si Shiro sanggup diajak 326KM untuk 10 liter BBM premium.

Kita lihat hasil pengujian-pengujian sebelumnya:

No Jangkauan KM/Liter
1 31KM
2 27KM
3 29KM
4 32,6KM

Apa artinya? Ternyata mau dibawa “eco ridding” maupun diajak “sruntulan”, jika berada di lingkungan yang rawan macet, dan kondisi jalan yang rusak parah, konsumsi BBM beda-beda tipis.

Cukup jauh perbedaannya dengan apa yang dirasakan oleh kakak saya yang tinggal di Cirebon, dimana konsumsi V-Ixion nya sanggup mencapai 500KM lebih untuk 10 liter. Wow, gara-gara kemacetan, saya harus ‘kehilangan jarak tempuh’ lebih kurang 20KM per hari. Hitunglah berapa ribu motor yang kehilangan literan BBM akibat kemacetan! :(

Apa lagi artinya? Artinya pemerintah kita ini malas dan bodoh untuk memecahkan kasus kemacetan. Mungkin yang ada di otak mereka hanya bagaimana mendapat keuntungan dari semakin banyaknya penjualan kendaraan dan besarnya pajak yang didapat. Sementara mereka tidak mau dan tidak mampu untuk mengurangi risikonya (kemacetan).

Percuma saja pemerintah gembar-gembor dalil penghematan BBM lah, konversi BBM lah, dan lah-lah lainnya, kalau kasus kemacetan malah semakin parah.

Salah satu biang kemacetan contohnya ini:

Jalanan rusak

Ya, jalanan yang rusak. Yang tidak mau diperbaiki, yang padahal uang untuk memperbaiki tiap hari mereka dapat dari pajak tahunan kendaraan, yang ketentuan perbaikan jalan ini diatur “UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan” dimana pihak penyelenggara jalan bisa dipidana akibat kelalayan pemeliharaan jalan sehingga menimbulkan kecelakaan/kematian.

Tapi akhirnya, semua cuma retorika. Rakyat kecil cuma bisa mengumel….

Dibawa Santai, si Shiro Sudah Menembus 260an KM


Si Shiro saat ini memang sedang dalam masa “eco ridding“. Sejak 03/05/2012 kemarin, si Shiro masuk ke fase pengujian BBM episode ke-4. Seperti rencana saya sebelumnya, di episode ke-4 ini, si Shiro akan saya ajak jalan secara santai. Ternyata, hasilnya cukup memuaskan. Setidaknya sampai saat ini, si Shiro sudah menembus 264 KM. Jika pada episode ke-3, ketika mencapai daya jangkau 260an KM, penunjuk BBM (fuel meter) sudah menyentuh garis merah simbol “E“, wow, saat ini (meski trip meter sudah menunjuk ke angka 264), jarum pada fuel meter baru tepat di tengah-tengah (antara E dan F).

Tapi memang belum bisa ditentukan rerata penggunaan BBM-nya, karena jarum pada fuel meter biasanya “menipu” :D. Walaupun masih menunjuk di tengah-tengah, siapa tahu sebetulnya sisa BBM hanya beberapa (2-3) liter saja. Ah rasanya sudah tidak sabar menunggu BBM si Shiro segera menunjuk garis “E“. Bukan karena tidak sabar menghitung rerata konsumsi BBM si Shiro episode ke-4, tapi rasanya sudah tak tahan membawa si Shiro secara santai beberapa hari ini. :D

Adapun ketentuan yang berlaku pada si Shiro selama masa “sabar” adalah sebagai berikut:

  1. Kecepatan maksimal 60KM/jam dengan putaran mesin maksimal 6000rpm
  2. Jarak tempuh (rumah ke kantor) sejauh 13KM dengan waktu tempuh antara 60-90 menit.
  3. Tidak melakukan manuver-manuver mendadak, si Shiro cenderung berjalan santai dan tidak selap-selip.

Dari sini sementara dapat ditarik kesimpulan bahwa berkendara secara santai “eco ridding” emang benar dapat menghemat konsumsi BBM.

Daya Jangkau si “Shiro” Sesi Ke-3


Pagi tadi, tangki si Shiro kembali diisi ulang. Ternyata, lagi-lagi si Shiro menghabiskan 10 liter bensin. Seperti rekayasa ya, tiap isi tangki pasti 10 liter :D, tapi itulah kenyataannya, walaupun sebetulnya berbeda beberapa CC, tapi ya dibulatkan saja, paling bedanya cuma beberapa sendok teh :D. Melirik trip odometer, kali ini daya jangkau si Shiro 292Km. Lebih irit dari sesi ke-2, walaupun masih kalah irit dengan sesi pertama yang mencapai 310Km per liter bensin.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Konsumsi BBM si Shiro, Jarak Tempuh Kali Ini Cuma 270an KM


Setelah diartikel sebelumnya, menguji konsumsi BBM si Shiro (V-Ixion 2011) sesi pertama ala “suka-suka”. Hari Kamis kemarin (19/04/2011), si Shiro sudah waktunya diminumi kembali. Kembali diperoleh 10 liter untuk mencapai “full tank”. Namun ada yang berbeda, di pengujian ke-2 ini, si Shiro hanya dapat menghasilkan angka 270an KM pada odometer, wow cukup jauh dengan torehan hasil uji pertama yang mencapai 300an KM lebih.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Meminjam Speda Motor, Tidak Cukup Hanya Isi Bensin Saja


Sudah umum, jika peminjam memberikan “janji manis” agar dia dapat meminjam, misalnya dengan ucapan “Nanti bensinnya dipenuhin”, atau “Nanti saya isiin bensinnya”. Tak masalah sih jika si peminjam hanya meminjam sekali dua. Tapi bagaimana jika beberapa hari, bahkan tiap hari? Ini seperti yang pernah saya alami tahun lalu.

Saat itu saya masih bekerja pada sebuah vendor PLN. Berhubung jauhnya lokasi tempat tinggal saya dengan kantor PLN dan jam kerja yang tidak menentu, memaksa saya untuk menyewa kamar kost yang dekat dengan lokasi kantor. Karena dekat (sekira 1Km dari tempat kost ke kantor), alhasil saya cukup berjalan kaki saja, dan si Jalu (Jupiter MX 2008) saya “simpan” di rumah. Berhubung tidak ada kendaraan di rumah, si Jalu akhirnya “dipinjam” oleh bapak mertua saya sebagai alat transportasi usahanya (industri rumah tangga, konveksi).

Pada kenyataannya si Jalu tidak hanya digunakan untuk kepentingan usaha saja, si Jalu kerap dipinjam karyawan untuk transportasi pribadi dan kemudian “menginap” di rumah karyawan tersebut. Enam bulan kemudian saya mendapatkan pekerjaan baru (kantor yang sekarang), dan memutuskan untuk tidak kost lagi. Si Jalu “jatuh” di “pelukan” saya lagi. Tetapi si Jalu ternyata sudah “berubah”, lampu-lampu (depan dan belakang) mati, jok berlubang, terdengar berisik pada rantainya, dan ‘ngeloyor’ serta berdecit ketika direm. Akhirnya saya ganti lampu-lampu yang mati tersebut di bengkel umum. Sekaligus mengganti kampas rem depan dan belakang dan mengganti bantalan-bantalan pada roda, juga ganti oli. Saya hanya menggunakan merk lokal saat itu, karena kondisi ekonomi yang sedang tidak memungkinkan :D. Beberapa hari kemudian lampu-lampu tersebut kembali mati, saya ganti lagi, beberapa hari kemudian mati lagi.

Dan bodohnya si bengkel ini dia tidak curiga, dan tetap bersikukuh bahwa tidak ada masalah dengan kelistrikan lainnya, walaupun saya sudah berulangkali bilang untuk memeriksa rangkaian kabel dan kelistrikan lainnya. Sampai akhirnya si Jalu tiba-tiba mogok dan mengharuskan saya untuk mendorongnya, untung tidak terlalu jauh. Menurut analisa mekanik bengkel umum tersebut, ada masalah dengan aki, dan harus diganti. Akhirnya saya ganti dengan aki baru plus ganti sekring. Dengan uang untuk pembelian aki harus pinjam ke orang tua lebih dulu :(.

Seminggu berlalu, lampu si Jalu kembali mati, bukan itu saja, tiba-tiba saya mencium aroma tidak sedap dari bagian belakang si Jalu. Ternyata oh ternyata, aki si Jalu terbakar, airnya sampai kering bahkan berasap. Terpaksa saya bawa lagi ke bengkel. Tetapi bukan ke bengkel umum yang biasanya, saya coba ganti bengkel. Karena keuangan yang makin kritis, saya tidak berani untuk membeli aki baru lagi, saya manfaatkan aki yang lama (bukan aki yang baru terbakar), setelah disetrum, ternyata si aki masih layak pakai.

Setelah melalui analisa mekanik di bengkel umum yang “baru”, diketahui bahwa ada rangkaian kabel yang konslet, dan aki yang terbakar diakibatkan oleh rusaknya kiprok. Akhirnya kiprok diganti, saya juga cuma pakai yang lokal dengan harga setengahnya dari harga kiprok orisinil. Si Jalu dapat dioperasikan normal dalam beberapa minggu.

Tibalah sampai saatnya gajian, sehari sebelumnya lampu si Jalu sudah kembali mati. Akhirnya saya “seret” lagi si Jalu ke bengkel. Berhubung sedang banyak uang :D, saya ajak si Jalu ke bengkel resmi. Saya titipkan si Jalu sementara saya berangkat kerja dengan naik kendaraan umum. Saya berpesan ke mekanik untuk memeriksa intensif bagian kelistrikan dengan sebelummnya menyampaikan keluhan-keluhan si Jalu. Saya juga berpesan agar mengganti semua material yang tidak orisinil dan mengganti semua komponen-komponen yang sudah tidak layak.

Sepulang kerja, saya menuju ke bengkel resmi. Hmm…, banyak juga komponen yang diganti, mulai dari gear set, kampas rem depan dan belakang, kiprok, kabel gas, sampai komponen-komponen kecil karburator. Tetapi ada beberapa komponen “besar” yang tidak diganti, sebelumnya pun sang mekanik telah menghubungi saya untuk konfirmasi, yaitu piringan cakram, dan shock-breaker belakang. Piringan cakram memang sudah cukup dalam coakannya, akibat habis terkikis karena kampas yang sudah sangat tipis. Kalau shock-breaker sih masih cukup layak (itupun diamini oleh si mekanik).

Dari hasil “bolak-balik” bengkel, ternyata dihitung-hitung biaya yang harus dikeluarkan cukup menguras kantong, mencapai Rp1,5juta. Untung saja si Jalu tidak sampai turun mesin.

Wow, karena dipinjamkan dan karena si peminjam cuma berprinsip “Yang penting bensin diisi”, siempunya (saya) harus menanggung kerugian cukup besar dan harus ditanggung sendiri. Oleh sebab itu, akhirnya saya jual si Jalu dan digantikan si Shiro, dengan harapan karena motor baru dan juga berjenis “batangan” yang agak ribet dikendarai (karena kopling manual), akan membuat enggan si peminjam.

Ah Shiro, Ada Apa Lagi Denganmu?


Setelah kemarin baru saja si Shiro saya ajak jalan-jalan ke BeRes untuk ganti lampu belakang, termasuk ganti kampas rem depan (infonya di sini: Si Shiro Ganti Lampu Belakang Lagi), sepertinya si Shiro harus diajak ke BeRes lagi. Baru tadi pagi, ketika hendak mengklakson penyebrang jalan yang menyebrang tanpa lihat kanan-kiri, ternyata tidak berbunyi. Ah saya pikir karena tombolnya keras akibat jarang dipakai. Ya saya memang jarang sekali menggunakan klakson. Dalam setahun mungkin tidak lebih dari 5x membunyikan klakson :D

Tetapi, begitu sampai di lampu lantas, saya ingin mengetes lagi klakson si Shiro, pencet sekali, tidak berbunyi, pencet lagi, masih tidak berbunyi. Yah harus diambil kesimpulan klakson si Shiro memang rusak, mungkin bagian kabelnya ada yang tidak tersambung. Heran saja, apa kemarin waktu “service ringan” tidak diperiksa oleh si mekanik? Atau, karena kejadian kerusakannya yang baru? Entahlah!

Ini motor baru lho, si Shiro itu belum genap 5 (lima) bulan, tapi kenapa sudah rewel seperti ini? Ah, memang tidak wajar nih si Shiro.

Hai Yamaha, tolong perhatikan kualitas produksimu! Jangan mentang-mentang V-Ixion ini motor laris jadi teledor dalam pengkontrolan kualitasnya. Ingat, kebanyakan konsumen Yamaha itu loyalis. Betapa tidak? Di saat semua latah mengucap “sepeda motor ya Honda”, di saat orang enggan memilih produk Yamaha karena harga jualnya yang cukup merosot, di saat orang enggan memilih produk Yamaha karena dikenal boros. Tapi karena loyalitas kami (konsumen) “berani” memilihmu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 161 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: