Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Mudahnya Penggunaan Jamsostek di RS Ciremai Cirebon


Sebelum ke cerita inti, saya ingin menceritakan kejadian beberapa bulan lalu, tepatnya pada akhir bulan Agustus tahun 2011. Ketika itu istri saya mengalami pendarahan yang hebat akibat keguguran. Sore hari istri saya semakin gelisah, kemudian saya membawanya ke bidan, dari bidan ternyata istri dirujuk mesti ke rumah sakit, karena harus dilakukan “kuret” (entah betul atau tidak penulisan istilahnya), yang pasti artinya adalah pembersihan sisa-sisa kotoran akibat proses keguguran. Saya punya Jamsostek, dan menurut informasi, bahwa sebelum dilarikan ke rumah sakit, terlebih dulu saya harus membuat surat rujukan dari PPK (Pusat Pelayanan Kesehatan) I (satu). Sayapun menuju Poliklinik RS Sulaiman yang memang saya pilih sebagai PPK I untuk membuat surat rujukan.

Jamsostek

Jamsostek

Setelah berhasil membuat surat rujukan. Saya bergegas menuju Rumah Sakit Al-Ihsan di daerah Bale Endah kabupaten Bandung. Demi Tuhan, cemas sekali hati ini, karena jauhnya jarak yang ditempuh (sekira 20Km, maklum, di Bandung sini saya berdomisili di pedalaman), belum lagi saya tidak tahu lokasi RS tersebut yang pasti, karena saya hanya mencari tahu via Googele Map, selain itu istri selalu mengeluh kesakitan.

Sesampai di RS, karena baru sekali ini menginjakkan kaki di RS ini saya kebingungan mencari instalasi Poliklinik. Ya, karena saya yang bodoh, karena saya yang tidak punya simpanan uang, saya yang hanya punya asuransi Jamsostek, jadi yang saya pikirkan adalah mencari Poliklinik di RS tersebut. Ternyata Poliklinik sudah tutup, bertanyalah saya kepada salah seorang petugas di situ.

“Permisi Pak, istri saya mengalami pendarahan akibat keguguran.” Ucap saya sambil menyerahkan kartu Jamsostek.

“Poliklinik sudah tutup, harus besok pagi-pagi. Selain itu harus bawa surat rujukan dari PPK satu.”  Kata si petugas.

“Ini pak saya bawa.” jawab saya sambil menyerahkan surat rujukan dari PPK I.

“Tapi tetap harus besok, pak.” Ucap si petugas.

“Tidak bisa sekarang pak, kasihan istri saya”. Ucap saya memelas.

“Tidak bisa pak, harus ke poliklinik, dan harus pagi-pagi”. Terang si petugas. Sayapun tertunduk lesu. Oh Tuhan, bagaimana istri nasib istri saya? Terpaksa saya membawa pulang kembali istri ke rumah, sambil mengerang kesakitan, saya melajukan sepeda motor saya dengan perlahan dan hati-hati karena sedikit saja terkena goncangan, istri saya bisa menjerit kesakitan. Perjalan sejauh 20Km pun kembali dilakoni.

Sesampai di rumah, saya menuju ke rumah praktik bidan, dengan harapan si bidan bisa membantu dengan memberikan obat-obatan penahan rasa sakit. Ternyata bidan tidak bisa membantu apa-apa. Saya tetap disuruh membawa istri ke rumah sakit (saat itu disarankan ke RS Imanuel). Oh Tuhan, tidak mungkin sekali, jarak ke RS Imanuel juga cukup jauh, sekira 15Km dengan kadar kemacetan bisa menghambat laju kendaraan hanya 20-40 KMPJ dengan kondisi istri yang semakin melemah. Sayapun merutuk dalam hati, kenapa bisa tinggal di daerah pedalaman seperti ini, sementara tempat tinggal saya dulu di Cirebon, sangat dekat sekali jaraknya dengan fasilitas-fasilitas umum dan anti macet. Untuk ke rumah sakit saja, cukup hanya 10-15menit berjalan kaki.

Terpaksa istri hanya dirawat semalaman di rumah dengan kondisi alakadarnya. Tetapi Alhamdulillah, istri saya masih diberi keselamatan kepada istri saya, walaupun bidan sudah ‘memvonis’ bahwa istri saya tidak akan dapat bertahan jika tidak dibawa ke rumah sakit.

Pagi harinya kamipun bergegas ke rumah sakit kembali.

——————————————————————————————

Senin dini hari tanggal 23 Januari 2012, jam 02.30, saya dan istri berencana pulang kembali ke Bandung setelah berlibur dua hari di Cirebon. Barang-barang seudah dikemasi pada malam sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi, istri sakit perut, terpaksa perjalanan pun dibatalkan. Hingga siang hari, kesehatan istri tidak juga pulih malah semakin memburuk, panas tubuhnya makin tinggi. Akhirnya saya larikan dia ke Rumah Sakit Ciremai.

Sesampai di RS saya beranikan saja membawa istri saya ke UGD, istri saya segera diberikan perawatan intensif, sementara saya dipanggil menuju ruang administrasi. Di ruangan administrasi, saya dimintai KTP untuk pendataan, setalah itu saya ditanya apakah punya Jamsostek. Sayapun menyerahkan kartu Jamsostek istri saya. Kemudian dijelaskan bahwa dari Jamsostek, untuk rawat inap disediakan kamar kelas III. Karena saya punya asuransi rawat inap sayapun meminta ‘naik kelas’ ke kelas I.

Kartu Jamsostek

Kartu Jamsostek

Hari kedua, saya disuruh oleh pihak rumah sakit untuk mengurus Jamsostek di kantor Jamsostek yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Dari kantor Jamsostek saya diberikan surat jaminan perawatan.

Istri dirawat selama dua malam, pagi harinya, walaupun menurut dokter istri belum boleh pulang, kami memaksakan diri untuk pulang. Saya mengurus administrasi keuangan, ini yang cukup mendebarkan hati saat akan keluar dari rumah sakit😀, karena biasanya banyak sekali rincian-rincian aneh sehingga harus merogoh saku lebih dalam.

Tetapi ternyata, saya hanya harus membayar selisih biaya kamar (dari kelas III ke kelas I) selama 3 (tiga) hari dan selisih biaya kunjungan dokter dan perawatan awal saja setelah dipotong dari yang ditanggung oleh Jamsostek. Sementara biaya obat-obatan (termasuk infus dan lain-lain) gratis sama sekali. Wow, mudah sekali penggunaan Jamsostek di RS Ciremai ini, tanpa perlu rujukan, tanpa harus disepelekan.

——————————————————————————————

Jika membandingkan kedua cerita di atas. Memang sangat disayangkan pelayanan dari RS Islam Al-Ihsan. Kenapa? Karena ketika setelah dijelaskan PENDERITAAN yang dialami istri saya kepada petugas RS. Entah si petugas RS yang bego (maaf saya benar-benar kesal), yang tidak tahu prosedural di sana, atau prosedur pelayanan RS yang berbeda bagi pemilik Jamsostek, sehingga tidak menganjurkan istri saya untuk dilarikan ke UGD (kalau saya tidak salah ingat, ruangan si petugas tidak jauh dari UGD), malah dengan gampangnya menyuruh saya kembali esok hari. Padahal kan, bisa saja dia bilang: “Wah, ini gawat pak/mas, segera masukkan ke UGD. Urusan administrasinya biar diselesaikan nanti.”

Berbeda sekali dengan di RS Ciremai, begitu sampai di RS istri segera dirawat intensif. Ah tak terbayang jika di RS Ciremai harus menggunakan prosedur seperti di RS Al-Ihsan, mungkin saya diharuskan pergi dulu ke PPK I di Bandung sebelum istri saya di rawat. KEBURU MATI DONG ISTRI SAYA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: