Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Perpanjangan SIM yang Gagal


Sabtu pagi menjelang siang 21 Januari 2012, setelah sampai dari perjalanan jauh dari Bandung ke Cirebon, saya berencana untuk memperpanjang SIM yang sudah kadaluwarsa sejak September tahun kemarin. Saya memang biasa mengurus surat-surat dan dokumen-dokumen apapun (seperti Kartu Keluarga, KTP, Akta, dll) sendiri, karena saya menghindari praktik budaya suap-menyuap dan budaya instan.

Setelah memarkirkan sepeda motor di pinggiran pagar, saya menuju ke arah gerbang Polres Kota Cirebon. Tidak seperti biasanya, di depan gerbang ada tenda dengan dijaga beberapa personil Polisi. Di situ juga tampak bergelantungan beberapa jaket. Wah, kenapa ya? Ah mungkin karena kasus bom di masjid Polres tahun kemarin sehingga penjagaan menjadi semakin ketat. Dan benar saja, ketika saya menuju ke tenda tersebut, saya disuruh melepaskan jaket saya, tetapi tidak diperiksa seperti para tamu yang lain.

Kemudian saya bertanya kepada salah satu personil Polisi mengenai syarat untuk perpanjangan SIM. Dengan cukup ramah (setelah sebelumnya dimintai untuk memperlihatkan KTP) dijawab bahwa saya harus membawa surat keterangan sehat dari dokter. Sayapun menanyakan kembali di mana saya bisa membuatnya. Polisi tersebut (aduh saya lupa membaca nama Polisi tersebut pada seragamnya) menunjukkan suatu tempat di luar lokasi Polres yaitu sebuah tempat dokter praktik. Saya menuju tempat tersebut, sesampainya di tempat itu si dokter melakukan pengecekan tensi darah. Setelah selesai saya dibuatkan selembar surat keterangan dan dimintai uang Rp11.000 (sebelas ribu rupiah). Wow, hanya memeriksa tensi mesti merogoh uang segitu, untung sekali si dokter😀

Sebelum keluar dari tempat praktik si dokter saya dipersilakan untuk ‘ngobrol-ngobrol’ dengan salah satu karyawan dari dokter praktik tersebut. Ternyata saya ditawari produk asuransi yang berlaku selama lima tahun seharga Rp30.000 (tigapuluh ribu rupiah), produk tersebut mencakup asuransi kematian dan bantuan biaya perawatan jika terjadi kecelakaan. Lalu saya bertanya kepada ‘si marketing’, apakah produk ini wajib dibeli kalau ingin membuat/memperpanjang SIM?

“Tidak wajib sih.” ‘Si marketing’ menjawab.
“Kalau gitu saya tidak ambil. Bukannya di SIM juga sudah ada asuransi kesehatan dari Jasa Raharja? Selain itu saya juga sudah punya asuransi untuk perawatan inap dari kantor.” Jawab saya.

Sayapun kembali ke tenda di depan gerbang Polres dan menemui Polisi yang tadi.

“Ini pak surat keterangan dokternya, lalu syaratnya apalagi?” Tanya saya.

“Bawa kartu sidik jari?” Tanya si Polisi.

“Wah, punya sih pak, cuma hilang” Jawab si Polisi.

“Kalau gitu mesti bikin lagi. Sini saya bantu” Terang si Polisi kemudian sambil berdiri dari duduknya kemudian mengajak saya ke pojokan. Deggg, mendengar kata “bantu” dari si Polisi, saya jadi tidak enak hati😀, baik sekali Polisi jaman sekarang😀

“Kalau bikin lagi (kartu sidik jari) syaratnya apa aja pak?” Tanya saya lagi.

“Foto kopi KTP dan pas foto 3×4 dua lembar” Jawab si Polisi.

“Wah, saya tidak bawa foto, pak”. Ucap saya.

“Sudah tenang saja, nanti saya bantu” Lanjut si Polisi kemudian.

“Ah, tidak usah pak, saya mau bikin sendiri saja” Ucap saya. Ternyata, apa yang terjadi saudara-saudara, dengan nada suara yang terdengan cukup menahan emosi si Polisi berkata:

“Ya sudah, sana sana, tuh bikinnya di sana!” Sambil menunjuk ke setua tempat.

Saya tidak langsung menuju tempat pembuatan kartu sidik jari, tapi saya menuju ke sebuah ruangan tempat pendaftaran SIM. Karena saya belum cukup data mengenai syarat-syarat untuk perpanjangan SIM. Di situ, saya bertemu lagi dengan seorang Polisi. Lalu saya menanyakan mengenai kelengkapan dokumen untuk perpanjangan SIM. Si Polisi yang ini tampak lebih kalem, kemudian menerangkan kalau saya harus mempunyai surat keterangan dokter dan kartu sidik jari. Saya menjawab kalau surat keterangan sudah saya buat, tinggal membuat kartu sidik jari, tapi saya tidak bawa foto.

“Hmmm. Gimana ya, ya sudah ikut saya, nanti saya bantu.” Ucap si Polisi tersebut. Deggg (lagi), wow ada yang menawarkan bantuan lagi. Saya[un berjalan di belakang si Polisi menuju ruang pendaftaran sidik jari. Sambil berjalan menuju ruang tersebut, si Polisi berbisik lirih:

“Nanti kalau ditanya kenal saya dari mana, bilang saja kalau dulu saya ngontrak di rumah kamu.” Wow, jurus apa lagi ini.

Si Polisi masuk lebih dulu kemudian bicara kepada petugas di ruang sidik jari. Setelah mengobrol dengan petugas tersebut si Polisi pergi meninggalkan ke ruangan sambil berbisik kepada saya bahwa setelah selesai pembuatan kartu sidik jari, saya di suruh menemui dia di ruangan pendaftaran SIM. Setelah itu giliran saya menghadap. Si petugas menanyakan syarat-syarat yang diperlukan.

“Bawa foto?”

“Ngga bawa, Bu.”

“Foto kopi KTP?”

“Ngga bawa juga.”

“Ya sudah, foto kopi dulu.”

Sayapun keluar ruangan menuju tempat foto kopi. Setalah itu saya kembali lagi ke ruangan yang tadi. Belum apa-apa saya langsung ditanya.

“Kamu siapanya pak G***** (nama Polisi yang tadi ‘menemani’ saya)” Tanya si petugas. Dengan sedikit canggung dan ragu (karena saya tidak biasa berbohong :D), saya menjawab:

“Pak G***** dulu ngontrak di rumah saya, Bu”, jawab saya (mengikuti instruksi dari Polisi yang tadi) sambil cengengesan.

“Kamu bohong ya? Kamu nggak kenal pak G***** kan, kamu baru ketemu di sini kan?” Ucap si petugas sambil tertawa kecil.

“Hehehe, iya Bu, saya cuma disuruh bilang gitu tadi” Jawab saya sambil cengengesan lagi.

“Wah, jangan coba-coba bohongi saya. Kalau pak G***** itu setan, saya ini mbahnya setan. Saya sudah tahu trik seperti ini”. Ucap si petugas kemudian sambil cengengesan juga. Waduh, ternyata saya berada di lingkungan setan, pikir saya kemudian😀. Tadi saya bertemu (cucunya) setan, sekarang saya ketemu mbahnya setan. Maaf ya nih bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di Polresta, karena itu pengakuan dari ‘orang’ di lingkungan Anda sendiri.😀.

Panjang lebar, akhirnya dinyatakan saya tidak diperbolehkan untuk membuat kartu sidik jari karena kekurangan syarat. Apa boleh buat sayapun harus menerimanya. Saya keluar dari ruangan tersebut kemudian menuju tenda di depan gerbang untuk mengambil jaket. Saya memeriksa isi jaket saya, agak khawatir memang, karena kecemasan akibat ‘kena semprot’ dari personil Polisi yang pertama, pikiran buruk akhirnya menyelimuti otak saya. Takut bila saja di jaket saya, iseng, diselipi obat-obatan terlarang (apalagi sebelumnya jaket saya tidak diperiksa lebih dulu oleh Polisi yang ada di situ). Terus terang saja saya benar-benar khawatir, karena saya pernah mendengar cerita dari blogger, bahwa kendaraannya pernah diselipi obat-obatan terlarang ketika terkena razia lalu lintas.

Untungnya jaket saya aman-aman saja. Sayapun menuju ke parkiran dan pergi meninggalkan Polres Kota Cirebon dengan berbagai pikiran. Salah satunya begini:

“Weleh, praktek percaloan sekarang makin berani terang-terangan. Makin kacau saja negara ini.”

3 responses to “Perpanjangan SIM yang Gagal

  1. didin 20 Juni 2012 23:09 pukul 23:09

    betul,,saat ingin masuk polres..semua menanyakan “mau ngurus apa mas?biar saya bantu”..ga jelas mana calo beneran mana pak pol yg jadi calo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: