Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Dibohongi Penjual Cemilan


Sekira satu atau dua bulan yang lalu, ketika jam istirahat kerja, saya pergi keluar dari komplek perkantoran bermaksud ke sebuah mini market, tujuannya mau beli sekedar makanan & minuman kecil.

Keluar dari mini market, ternyata saya disusul oleh seseorang sambil memanggil-manggil, “jang! jang!”. Otomatis saya berhenti kemudian nengok ke arah sumber suara.

Ngga taunya seorang ibu-ibu tua, mungkin berusia sekira 50-60 tahun. Jalan tergopoh-gopoh sambil menjinjing beberapa kantong plastik.

Gambaran Nenek Okem

Gambaran Nenek Okem

Saya tanya, “ada apa mak?”. Lalu diapun bercerita kalau dia baru diturunkan oleh kondektur bis karena dia nggak bisa bayar ongkos, karena dia kehilangan uang. Tinggallah barang bawaannya yang tersisa. Padahal kota tujuannya masih jauh, katanya dia hendak pulang ke kota Garut.

Barang bawaanya itu ternyata macam-macam cemilan/makanan ringan semacam, keripik pisang, kacang telor, dan lain-lain.

Si ibu itu dengan tampang sedih berharap agar saya membelinya barang satu atau dua dagangannya. Dia memohon agar saya membelinya dengan harapan dia punya uang untuk pulang.

Merasa kasihan dengan nasib ibu itu, saya membeli dua bungkus cemilan dari ibu itu, yaitu keripik pisang dan kacang telur, walaupun dengan harga dua kali lipat dari harga umum/pasaran dari harga cemilan itu, ya saya tahu betul berapa harga sebungkus cemilan seperti itu, karena saya biasa beli.

Gambaran Keripik Pisang

Gambaran Keripik Pisang

Setelah memberi uang untuk membeli cemilan tersebut, saya pun berlalu meninggalkan si ibu.

————————————————————————

Dan, hari ini, ternyata eh ternyata saya melihat lagi ibu-ibu itu, kami tidak bertemu muka, jarak antara saya dan ibu-ibu itu mungkin sekira 30 meter. Ibu-ibu itu tampak sedang ‘bertransaksi’ dua orang anak SMA yang baru keluar dari komplek perkantoran (anak-anak SMA itu sedang ber-PKL di komplek perkantoran saya).

Dan akhirnya terlihat si anak SMA memegang bungkusan cemilan sambil berlalu meninggalkan ibu-ibu itu.

Saya nanya kepada pedagang kaki lima yang warungnya sedang saya singgahi.
“Mang, emak-emak itu kok cara jualannya begitu ya, nggak jujur?” tanya saya. Lalu apa jawab pedagang itu? Cukup mengejutkan.

“Emang begitu, pura-pura hilang uang, Banyak yang udah tahu. Udah sering juga dinasehati tapi masih saja seperti itu”, kata si pedagang.

“Wah, kok parah ya mang? Beberapa bulan yang lalu saya ketemu dia, terus dia bilang hilang uang, terus dia nawarin cemilan, karena kasihan sayapun membelinya”, ucap saya selanjutnya.

“Iya emang begitu. Ada satu lagi bapak-bapak, dia pura-pura nanya alamat, kemudian dia ngelihatin alamat yg ada didompetnya, sambil bilang dia kehabisan ongkos. Akhirnya dikasih uang sama orang yang ditanyainnya.” kata pedagang itu ngejelasin.

————————————————————————-

Wah makin kacau aja nih dunia, itu ibu-ibu udah tua bukannya lebih banyak ibadah menjelang waktu-waktu ajalnya, malah jadi penipu walau dengan alasan mencari rizki untuk menyambung hidup.

5 responses to “Dibohongi Penjual Cemilan

  1. vixy182 28 Januari 2012 10:08 pukul 10:08

    walah…macam2 sekrg trik penjual..baru tau ni bro..

  2. hari supriono 1 Mei 2012 21:52 pukul 21:52

    wkwkwkwk………….banyak trik untuk mendapatkan uang……..
    uangnya sih halal, caranya yang enggak……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: