Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Antara Tuntutan dan Keprihatinan


Entahlah judul apa yang pantas untuk artikel ini😀 Langsung saja!

Menderita sakit memang sangat tidak mengenakkan, pantaslah Bang Haji Rhoma Irama sampai-sampai menyampaikannya melalui lirik lagu yang berjudul “Nilai Sehat” (yuk dengarkan lagunya di sini: Musik Asik. Nah omong-omong tentang sakit, katanya sih jika kita sedang sakit (khususnya flu), sangat tidak dianjurkan untuk mengemudi, karena bahanya sama seperti ketika kita sedang mabuk narkoba (entah bagaimana rasanya, saya belum pernah dan tidak ingin pernah tahu. Tetapi, berarti bila kita ingin tahu rasanya mabuk akibat narkoba, maka sakit flu lah :lol:). Wow, bahaya sekali ya?

Walaupun saya sudah tahu bahaya tersebut, saya tetap saja mengemudikan “si shiro”, V-Ixion putih tunggangan saya untuk pergi bekerja. Apa boleh buat, bukannya saya tidak mengindahkan bahaya yang bisa saja mengancam nyawa. Tetapi keterbatasan-keterbatasa memaksa saya.

Berdomisili nun jauh di sebuah desa di ujung Selatan Kabupaten Bandung, mengharuskan saya menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor) sebagai sarana transportasi ke dan dari tempat kerja yang berjarak kurang lebih 15KM. Sebetulnya ada sih kendaraan umum (angkot), tetapi cukup merepotkan. Untuk naik angkot, dari rumah harus lebih dulu menuju jalan raya yang berjarak lebih dari 1KM, ini harus ditempuh dengan jalan kaki naik delman/sado/dokar/andong/keretek (kereta kuda). Setelah itu barulah bisa naik angkot, dan butuh dua kali naik turun angkot untuk sampai ke kantor. Itu belum cukup, sayapun mesti berjalan beberapa ratus meter untuk benar-benar sampai ke gerbang kantor.

Jika harus menggunakan transportasi umum, tentu saja saya harus berangkat lebih pagi dan menempuh perjalanan lebih lama, dua sampai tigal kali waktu yang ditempuh daripada menggunakan kendaraan pribadi (sudah ditambah ‘menikmati’ macetnya jam kantor dan jam sekolah).

Menimbang tidak memungkinkannya penggunaan moda transportasi umum, mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi. Ketika sedang sehatpun saya harus ekstra hati-hati (apalagi ketika sedang sakit) saat melaju dari rumah menuju jalan raya. Kenapa lagi aasannya kalau bukan karena jalanan perkampungan yang rusak parah. Jalanan penuh lubang dan bercampur tanah sawah, yang bila diguyur hujan bisa mengakibatkan pengendara sepeda motor menjadi malu dan rendah diri karena sepeda motornya seperti sudah terjun dari pesawahan, benar-benar kotor dan belepotan.

Kondisi ini sudah berlangsung selama dua tahun, dan belum ada perbaikan sama sekali, heran. Sebetulnya sudah sangat ingin saya protes kepada pemerintah desa setempat, tapi apa boleh buat, alamat KTP saya masih Kota Cirebon, dan posisi saya cuma warga domisili di sini (daerah ini adalah rumah kediaman istri). Lagi pula ‘amit-amit’ saya harus mengurusi kepindahan ke daerah seperti ini, hiii ngeri.

Terus terang saya merasa sangat heran dengan pemerintah SBY periode ke dua ini. Negeri seakan-akan tidak punya pemimpin, semua aspek diabaikan. Jalan-jalan dibiarkan rusak, sarana-sarana umum lainnya dibiarkan tak terrawat. Kecuali bila akan ada kunjungan presiden, baru lah sibuk memoles borok-borok yang terlihat. Sementara yang di atas (presiden, anggota dewan, para pejabat lainnya)? Gila, saling berebut korupsi, saling menghambur-hamburkan uang yang tidak perlu, seperti untuk membeli pesawat kepresidenan hingga ratusan milyar, merenovasi toilet gedung DPR lah, pengadaan pengharum ruangan lah (rupanya sudah pada bau busuk nih para anggota dewan), pengadaan WTS lah (mungkin).

Ada apa ya? Apa mentang-mentang ini periode (bebas) SBY yang terakhir (karena setelah ini tidak bisa lagi mencalonkan diri)? Atau ini hanay buruknya sangkaan saya? Entahlah, tapi yang pasti, wahai pemerintah, kami tinggal di negeri sendiri ini tidak gratis, kami ditarik upeti (pajak), kami harus membeli bahan pokok tanpa subsidi, kami harus membayar (ditambah pungli) ketika berurusan dengan instansi pemerintah (bikin KTP, bikin Kartu Keluarga, bikin SIM), kami harus mengeluarkan biaya tak sedikit untuk sekolah, jadi tolong lah, hargai kami, beri kami pelayanan yang layak, toh kalian bisa makan juga dari kami (mau bukti? Kalian hitung sumber pemasukan dari pajak dan dari sumber daya alam, lebih besar mana?), toh tugas kalian itu melayani kami, kalau malas, ya berhenti saja! Pasti masih banyak yang mau untuk melayani kami. Jangan hanya memeras dan memperalat kami.

5 responses to “Antara Tuntutan dan Keprihatinan

  1. Aa Ikhwan 13 Februari 2012 11:36 pukul 11:36

    susah emang masbro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: