Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Oh Tukang Parkir


Mendung menggelayut senja, membuat langit makin temaram. Aku bergegas memacu si “Shiro”, sepeda motorku, meninggalkan tempat kerjaku, berharap cepat mencapai rumah demi terhindar dari siraman hujan.

Di depan sana tampak sebuah bangunan poliklinik yang tak seberapa jauh darinya terdapat bangunan yang jauh lebih kecil yang di dalamnya terdapat sebuah mesin ATM. Akupun mengarahkan si Shiro ke arah bangunan tersebut dengan tujuan mengambil beberapa lembar uang, kemudian aku memberhentikan si Shiro tepat di depan bangunan tersebut.

Setelah berinteraksi dengan mesin ATM selama beberapa menit, akupun keluar dari ruang ATM dan menaiki si “Shiro”. Dengan bertumpu pada kedua kaki, aku berusaha mendorong si Shiro sedikit ke belakang. Tapi tiba-tiba, datang seseorang berkaos pendek sembari meniup peluit. Kemudian tangannya memegang bagian belakang si “Shiro”, mungkin tujuannya untuk ‘membantu’ saya memundurkan si Shiro.

Buru-buru aku sergah tindakannya dengan mengangkat lima jari. Seperti mengerti isyaratku, orang tersebut berlalu meninggalkanku. Setelah menstarter si “Shiro”, akupun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Itulah sepenggal cerita yang baru saja saya alami beberapa hari terakhir ini. Pembaca, beberapa tahun terakhir ini dimana kesulitan ekonomi semakin meningkat ditambah dengan semakin susahnya mendapatkan pekerjaan (entah karena pemerintah yang tak acuh yang tak mampu menyediakan lahan pekerjaan, atau entah karena kemalasan kita orang yang tidak mau berusaha mencari atau menciptakan lahan kerja sendiri), semakin marak bermunculan tukang parkir liar yang menurut saya keberadaannya cukup meresahkan.

Betapa tidak, mereka memungut ‘uang parkir’ tidak pada tempatnya. Saya sendiri tidak pernah merasa keberatan jika tarif parkir dikenakan pada lokasi-lokasi yang memang sudah ditentukan oleh perutaran daerah, seperti pada pasar tradisional, pasar modern (mall), kawasan pertokoan, dan sebagainya. Tapi jika parkir di bangunan mesin ATM, yang hanya memarkirkan kendaraan hanya beberapa menit saja, dikenakan ‘uang parkir’, ini keterlaluan. Dan ini bisa dikategorikan sebagai bentuk pemerasan/premanisme kecil-kecilan.

Di Cirebon sana, saya sering menemukan tukang parkir liar yang meminta uang parkir pada konsumen warung-warung kecil, seperti warung bakso, warung es kelapa muda, warung nasi, dan lainnya. Tetapi, saya sendiri tidak pernah sekalipun memberi uang parkir kepada mereka. Untuk apa? Toh saya tidak berlama-lama berdiam di warung-warung tersebut, saya hanya memesan, membayar, kemudian pergi. Lagipula tidak ada peraturan mengenai pengenaan uang parkir pada warung-warung kecil. Hitunglah jika saya harus selalu membayar mereka, dalam sehari mungkin saya harus mengeluarkan beberapa ribu rupiah, untuk suatu jasa ang sama sekali tidak saya perlukan.

Pernah suatu kali ketika saya selesai membeli sebungkkus bakso untuk istri kemudian segera melajukan sepeda motor kemudian mengacungkan lima jari tukang parkir yang ada di sebelah saya. Setelah beberapa meter berjalan, si tukang parkir berteriak, “Woy, bayar parkir”. Karena diteriaki seperti itu, saya pun berhenti, dan dengan isyarat tangan memanggil si tukang parkir. Si tukang parkir mendekati saya, terjadilah obrolan.

Saya: “Kenapa mas?”
Tukang Parkir: “Bayar parkir mas.”
Saya: “Buat apa? Masa warung bakso begini saja mesti bayar parkir.”
Tukang Parkir: “Biasanya begitu mas.”
Saya: “Peraturan siapa? Boleh kali ini saya bayar, tapi lain kali, kalau ternyata saya hilang motor, situ tanggung jawab?”
Tukang Parkir: “Ya ngga.”
Saya: “Hey, peraturan yang berlaku sekarang ini, kalau motor hilang, tukang parkir harus tanggung jawab mengganti. Terus buat apa saya bayar kalau nggak ada hak apapun yang saya dapat?”

Si tukang parkirpun cuma diam saja, tidak berani lagi meminta.

Akhirnya, saya berpesan kepada para anak bangsa, carilah pekerjaan yang lebih baik, halal, dan bermanfaat. Sebetulnya masih banyak pekerjaan yang bisa ditekuni kalau kita tidak malas-malasan dan tidak gengsi-gengsian. Toh sebelum saya mendapatkan pekerjaan yang (boleh dibilang) cukup enak seperti sekarang ini, saya pernah menjadi pedagang asong, tukang semir sepatu, tukang sapu mobil, sampai kuli bangunan, walaupun saat itu ‘title’ saya sebagai siswa/mahasiswa.

5 responses to “Oh Tukang Parkir

  1. redbike92 14 Februari 2012 19:12 pukul 19:12

    di tempat saya (Surabaya ama Sidoarjo)
    tukang parkir mobilnya beda kasus bro
    kalau mobil masuk dia ngilang
    kalau mobil mau keluar langsung keluar sambil mesam-mesem

    *empek empek campur sayor lodeh
    cape deh hehee

  2. gogo 14 Februari 2012 19:41 pukul 19:41

    miris.. jengkel jg klo tiap ke atm pasti kek tuh atm dijaga ama tukang parkir.. dan yg lbh ngeselin klo ane lg kesusahan ngeluarin motor si tukang parkir diem aj, baru klo mau jalan ditarik. .minta dihajar..
    smga ad penertiban tukang parkir, mn tmpat yg boleh dan tidak dijadikan bisnis parkir..

    • Novian Agung 15 Februari 2012 08:39 pukul 08:39

      Sebaiknya jangan dihajar bro, diomeli saja biar dia yg menghajar kita. Kalau sudah begitu, tinggal laporkan ke Polisi😀

      Mudah-mudahan aparat lebih tegas (mungkin tidak ya?) menertibkan tukang parkir liar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: