Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Kenaikan BBM, Kemiskinan, dan Retorika Pemerintah


Naiknya harga minyak dunia dapat dipastikan mempengaruhi pula harga-harga barang pada skala nasional. Walaupun pemerintah belum menetapkan ‘harga baru’ untuk BBM, tetapi dampaknya sudah mulai terasa. Harga bahan-bahan pokok seperti beras, minyak, gula, dan sebagainya, mulai berangsur-angsur mengalami kenaikan. Apalagi jika kenaikan BBM sudah ditetapkan, siap-siap saja untuk menyiapkan dana (yang lebih) ekstra.


Kenaikan harga bila dibandingkan dengan kebutuhan terhadap barang bagi orang-orang yang berpenghasilan tinggi memanglah bukan masalah yang berarti, hanya mengurahi jumlah simpanan (uang) dari biasanya. Tapi bagi yang berpenghasilan di bawah standard? Tentu sangat meresahkan, harus memeras otak dan tenaga lebih ekstra guna menutupi kekurangan.

Ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Pada September 2011, menurut BPS, jumlah penduduk berketidakmampuan ekonomi mencapai 29,89juta, di mana kriteria “orang miskin” menurut BPS adalah seorang yang berpenghasilan di bawah Rp6.000 per hari. Berbahagialah jika Anda berpenghasilan di atas itu, karena Anda sudah termasuk sebagai orang kaya atau orang berkecukupan (versi pemerintah).😀

Tidak adil memang, ketika pemerintah menetapkan standard harga BBM berdasarkan harga minyak internasional, tetapi ketika menetapkan standardisasi kemiskinan, pemerintah tidak menggunakan standard internasional juga. Oh ya, standard kemiskinan internasional adalah penduduk berpenghasilan di bawah $2 atau sekira Rp18.000 (dengan asumsi $1 = Rp9.000). Bisa dibayangkan jika pemerintah menggunakan standard international. Maaf ini hanya perhitungan kasar: 18.000/6.000 * 29.890.000 = 89,670juta penduduk, hampir setengah dari penduduk Indonesia adalah berstatus miskin.

Jadi, statistika penduduk miskin dari BPS apakah suatu bentuk kebohongan? Entahlah, yang pasti, dengan kenaikan BBM dan kenaikan harga yang akan dihadapi, tentu akan menambah jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Tapi bagaimanapun, terima saja, toh kita tidak bisa apa-apa. Toh ini merupakan suatu bentuk tanggungjawab terhadap apa yang telah kita lakukan, kesalahan dalam memilih figur pemerintah. Kasarnya, salah lima menit harus ditebus penderitaan lima tahun. Nikmati saja, masih tersisa dua tahun ke depan. Berdasarkan data dan survei, sebagian besar sumber suara pemerintah saat ini adalah dari para penduduk dengan pendidikan di bawah atau sama dengan SMP.

Mari lebih berhati-hati dalam memilih calon pemimpin, jangan pilih pemimpin yang pandai berbohong!

3 responses to “Kenaikan BBM, Kemiskinan, dan Retorika Pemerintah

  1. MENONE 27 Februari 2012 12:57 pukul 12:57

    cm bisa melotot…. pingin ngeludahi wajah2 pejabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: