Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Pengalaman Bersama Polisi


Ini kisah yang pernah saya alami di tahun 2006 lalu. Waktu itu status saya masih berpacaran dengan seorang perempuan yang sekarang jadi istri saya. Seperti biasa, dalam satu bulan saya selalu melakukan wajib apel dengan melakukan perjalanan Cirebon-Bandung. Maklum pacaran jarak jauh.๐Ÿ˜€


Perjalan sejauh 150Km itu biasa saya tempuh dengan skutik Yamaha Mio tahun 2005. Dengan si Mio saya pernah menorehkan record perjalanan Cirebon-Bandung hanya 2,5jam. Torehan waktu yang sangat sensasional yang sampai kini belum bisa terpecahkan dengan dua sepeda motor yang saya miliki setelah Mio. Entah karena usia yang semakin bertambah sehingga semakin enggan untuk kebut-kebutan atau semakin padatnya jalanan sekarang ini. Sampai saat ini, paling cepat hanya mampu ‘berlari’ selama 3,5jam.

si Mio'2005 kesayangan

si Mio'2005 kesayangan

Saat itu, saya melakukan perjalanan di pagi hari, sekira pukul 10.00. Perjalanan dilalui dengan lancar, sampai di daerah Kabupaten Sumedang tampak beberapa sepeda motor menepi dan tak jarang terlihat pesepedamotor yang berputar arah. Apalagi alasannya selain karena ada razia/operasi lalu lintas. Ah, karena surat-surat kendaraan lengkap dan tidak ada masalah dengan si Mio, sayapun melaju dengan santai. Biasanya saya tidak pernah dihentikan oleh polisi bila ada razia, entah kenapa sekarang dihentikan. Ya silakan saja!

Seperti biasa ditanyai surat-surat kendaraan seperti SIM dan STNK. Saya pun segera merogoh dompet dan mengeluarkan SIM dan STNK saya. Setelah surat-surat diperiksa, kini giliran si polisi berkeliling memeriksa si Mio, mungkin berharap ada yang bisa dijadikan “jalan uang”. Tapi sayang sekali, nihil.๐Ÿ˜€

Setelah polisi menyerahkan kembali surat-surat kendaraan, saya segera memasukkan kembali ke dompet dan memasukkan dompet ke saku celana, kemudian “menyemplak” kembali si Mio. Beberapa kilometer dilalui, terlihat jarum pada fuel meter sudah menunjuk huruf “E”, saatnya isi bensin. Setelah masuk ke SPBU, sebelum mulai pengisian BBM, saya selalu menyiapkan uang terlebih dahulu. Sayapun merogoh saku celana belakang untuk mengambil selembar uang. Tetapi, saya kaget, dompet saya sudah tidak ada pada tempatnya. Karena panik, saya periksa tas selempang kecil saya, berharap mudah-mudahan saya lupa menyimpan dompet. Ternyata di tas kecil itupun si dompet sama sekali tidak ditemukan. Mampus!!! Saya betul-betul semakin panik, mau kembali ke belakang mencari dompet saya yakin tidak akan ditemukan, jika harus pulang kembali ke Cirebon sudah terlalu jauh. Melanjutkan perjalanan ke Bandung? Apa sanggup dengan sisa bahan bakar yang mungkin kurang dari seliter, sedangkan jarak yang ditempuh masih sekira 70Km atau 80Km, itupun belum termasuk jalanan yang macetnya pasti akan luar biasa.

Dengan penuh ke khawatiran, sayapun memaksakan si Mio terus berjalan menuju Bandung. Beberapa kilometer kemudian, terlihat kembali pemandangan seperti sebelumnya, banyak pesepedamotor melambatkan lajunya dan menepi. Ya Allah, ada razia polisi lagikah? Ternyata benar. Gila, razia polisi di dua tempat masih dalam satu wilayah (Kabupaten Sumedang). Sayapun semakin panik, mengingat surat-surat kendaraan sudah raib. Sebelum diberhentikan polisi akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang jalan (untuk menghindari polisi) dan memarkirkan si Mio di sebuah warung makan. Setelah memarkirkan si Mio, sayapun menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri.

Dengan berdebar hati namun dengan sedikit ketenangan, sayapun berjalan stidaknya 100meter ke depan menuju lokasi razia. Sampai di lokasi, sayapun bertanya kepada salah seorang petugas.

“Pak, saya ingin bertemu dengan kepala.” ujar saya kepada polisi tersebut.
“Ada perlu apa mas, sama saya saja.” jawab si polisi.
“Ya sudah, begini Pak, saya mau ke Bandung. Saya pakai motor, tuh motornya saya parkir di sana.” Ucap saya sambil menunjuk ke arah warung tempat saya memarkirkan si Mio.
“Dompet saya hilang, surat-surat kendaraan ada di dalamnya.” lanjut saya kemudian.
“Ya sudah, ngobrol sama pak kepala saja, tuh di belakang mobil.” ujar si polisi sambil menunjuk ke arah sebuah mobil patwal (patroli kawal).

Sayapun berjalan ke arah mobil tersebut. Kemudian dihampiri oleh seorang polisi lagi.
“Ada apa mas?” tanya si polisi.
“Saya ingin ketemu pak kepala.” jawab saya.
“Sama saya saja, pak kepala sedang menelpon, ada keperluan apa?” ucap si polisi itu kemudian.

Sayapun mengulangi penjelasan seperti yang telah saya ucapkan pada polisi sebelumnya. Sembari saya memperlihatkan isi tas saya yang sama sekali kosong.

“Lalu bagaimana?” Tanya si polisi itu.
“Saya minta ijin lewat Pak.” ucap saya kemudian.
“Ya sudah lewat saja.” ujar si polisi.
“Bagaimana kalau saya diberhentikan polisi lain?” tanya saya khawatir.
“Bilang saja sudah dapat ijin dari saya” ucap si polisi. Demi mendengar jawaban tersebut sayapun sedikit lega. Kemudian saya membaca papan nama polisi tersebut dan mengingatnya. Tidak samapai di situ, sayapun kembali bicara kepada polsi tersebut.
“Oya pak, maaf, saya kehabisan bensin, sementara uang saya nggak bersisa sama sekali.”
“Oh, lalu?” tanya si polisi.
“Saya minta uang pak buat isi bensin.” ucap saya kemudian. Tak dinyana, si polisi mengeluarkan dompetnya dan memberi saya selembar uang Rp5000. Setelah berterimakasih, sayapun berjalan menuju warung tempat si Mio diparkir.

Kembali “nyemplak” si Mio, sampai di depan lokasi razia polisi tadi, saya diberhentikan oleh seorang polisi. Seperti biasa ditanya-tanya mengenai surat-surat kendaraan. Sayapun menjelaskan kejadian-kejadian yang sudah saya alami, mulai dari kehilangan dompet berisi surat-surat kendaraan, diberi ijin oleh salah seorang polisi yang saat itu masih tampak sedang duduk di sisi mobil, termasuk diberi uang Rp5000 oleh polisi tersebut.

Si polisi tampak sedikit ragu. Lalu saya persilakan dia menanyakan kepada si polisi yang telah memberi ijin kepada saya. Saya juga menyuruhnya memeriksa pakaian dan tas yang saya pakai. Si polisipun percaya. Akhirnya saya diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Sik asik….

Sesampai menemui SPBU terdekat, sayapun segera mengisi bensin si Mio yang sepertinya hampir sekarat, dan perjalananpun dilanjutkan. Alhamdulillah saya bisa sampai dengan selamat ke rumah pacar (sekarang istri) saya dengan tanpa kendala (macet) yang berarti.

Bersambung…๐Ÿ˜€

11 responses to “Pengalaman Bersama Polisi

  1. Aa Ikhwan 28 Februari 2012 10:36 pukul 10:36

    perjuangan untuk bertemu sang mantan pacar๐Ÿ˜€

  2. bapakeVALKYLA 28 Februari 2012 15:52 pukul 15:52

    walah….
    Polisinya kok baik banget ya…

  3. Pria Biru 29 Februari 2012 08:28 pukul 08:28

    Weh…mungkin kalo di Jakarta…jujur kayak gitu malah bisa-bisa motor langsung dibawa ke kantor polisi tuh….hehehe
    Mungkin tuh dompet masih dipegang sama poilisi pertama waktu razia kali Bro’….

  4. rusmanjay 1 Maret 2012 13:38 pukul 13:38

    buah dari kejujuran๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: