Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

[Lanjutan] Pengalaman Bersama Polisi


Ini kelanjutan dari artikel sebelumnya, silakan baca di sini: Pengalaman Bersama Polisi.
Ya, setelah melewati masa-masa kritis itu😀, akhirnya saya sampai di Bandung dengan selamat, Alhamdulillah. Sebelumnya sempat khawatir juga kalau-kalau ada razia lagi di kota Bandung (biasanya sering menemui razia di jalan by-pass Soekarno-Hatta), karena saya sampai di kota Bandung tengah hari. Tapi syukurlah tidak kekhawatiran itupun sirna.


Razia Polisi

Razia Polisi

Tidak perlu saya ceritakan “agenda apel” nya😀. Oya, kalau apel, saya biasa menginap di rumah pacar (sekarang istri) saya, tapi tidak satu kamar😀. Saya cuma baru boleh tidur di ruang tamu, tak apalah daripada harus keluar uang buat tidur di penginapan atau bahkan tidur di emper toko. Esok harinya, berbekal uang pinjaman dari sang pacar untuk ongkos bensin😀, saya pulang kembali ke Cirebon.

Sesampai di Sumedang, saya sempatkan ke kantor polisi untuk membuat surat kehilangan. Masuk ke polres kota kecamatan, setelah melapor sayapun diberikan surat kehilangan. Dan yang mustahil, surat keterangan kehilangan itu diberikan gratis, alias tidak bayar. Awalnya saya sudah berencana, kalau si polisi minta “uang administrasi” bakal saya omeli. Wajar toh, kalau kesal? Orang dalam perjalanan kemudian kehilangan, eh malah dimintai uang. Untungnya gratis. Terima kasih pak polisi, tidak seperti di polres kota Cirebon, saya cuma kehilangan kartu ATM dimintai Rp15.000, lebih mahal dari biaya administrasi kartu ATM-nya, mantap! Tak berprikemanusian memang polisi-polisi macam itu.

Pungli

Pungli

Sayapun meninggalkan kantor polisi dan mlanjutkan perjalanan. Sesampai di Majalengka (sekira 3/4 perjalanan), saya menyempatkan mampir lebih dulu ke tempat pencucian sepeda motor. Karena si Mio sudah sangat dekil tak karuan. Nah ketika di tempat pencucian sepeda motor, henpon berdering. Ketika diangkat ternyata dari seorang teman mahasiswa yang “nyambi” kerja jadi asisten dosen. Katanya, baru saja ada telpon ke kampus menanyakan tentang saya, si penelpon mengatakan kalau ia menemukan sebuah dompet yang berisi kartu identitas saya.

Subhanallah, betapa girangnya saya. Akhirnya saya menelpon “si penemu”. Si penemu menjelaskan bahwa dia menemukan dompet saya di parit (saluran air) ketika dia hendak kencing, dan karena tidak menemukan nomor yang dapat dihubungi, akhirnya dia menelpon ke nomor telpon kampus yang terlihat di KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) saya. Lanjut ia lagi, dompet hanya berisi kartu-kartu, sudah tidak ada uang (ah tidak masalah, surat-surat lebih penting). Dan kalau saya mau ambil, silakan menemuinya di tempat kerjanya.

Waduh, cukup disesalkan, perjalanan ke Cirebon hanya tinggal 1/4 jalan lagi. Rasanya saya tidak mungkin berputar balik menuju Bandung lagi, menimbang pula khawatir jika mendapatkan razia polisi lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Cirebon. Sampai di rumah saya menelpon untuk meminta tolong pacar saya untuk mengambilkan dompet saya tersebut. Dan sejak saat itu, saya kapok menggunakan dompet sampai sekarang. Terhitung sudah 5 (lima) kali bahkan mungkin lebih, saya sudah kehilangan dompet.

3 responses to “[Lanjutan] Pengalaman Bersama Polisi

  1. vixy182 1 Maret 2012 19:02 pukul 19:02

    masih ada org yg baik…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: