Kata Baru

Tentang Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

Cerita si Shiro


Ah daripada tidak ada bahan tulisan, ditambah kerjaan kantor sudah selesai, kalau bengong bakal tambah ngantuk, lebih baik menulis cerita. Terima kasih yang sudah berkunjung, tidak perlu membaca, karena isinya tidaklah terlalu penting!😀

Si Shiro, tunggangan saya, sepeda motor merk Yamaha V-Ixion, ‘lahir’ pada tanggal 21 Nopember 2011. Saya namai “Shiro” karena berwarna putih dan buatan Jepang, andai saja buatan India, mungkin saya akan namai: “सफ़ेद” (apa ya dibacanya?). Si Shiro ini menggantikan tundangan saya sebelumnya, si Jalu (Jupiter MX kelahiran Juni 2008). Si Jalu terpaksa dijual untuk melunasi “hutang najis”, ya, hutang yang harus saya lunasi, padahal bukan saya yang seharusnya bertanggungjawab atas hutang tersebut. Padahal banyak sekali kenangan dengan si “Jalu”. Selamat jalan “Jalu”, mudah-mudahan tuanmu yang baru tidak menterlantarkanmu.

si Shiro

si Shiro

 Si Shiro dibeli secara kontan dari dealer Yamaha seharga Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah), sisanya “dibantu” oleh pihak leasing.😀 Saat itu sebetulnya saya tidak terlalu suka dengan Yamaha V-Ixion, karena secara visual tampak kopong (banyak ruang kosong) pada bagian depannya. Saya lebih tertarik pada Yamaha Byson yang tampak gagah berisi. Tapi apa daya, jika pilihan tetap pada Yamaha Byson, alhasil saya harus jalan kaki naik angkutan umum untuk pergi dan pulang kantor.

 Percaya atau tidak, sebelum menggunakan si Shiro, saya sama sekali belum bisa untuk mengendarai sepeda motor dengan kopling manual, hanya riwayat kecil, bahwa saya pernah sekali (itupun hanya satu jam) belajar mengendarai Yamaha F1ZR kepunyaan seorang teman, itupun 8 (delapan) tahun yang lalu. Sempat ragu untuk ‘meminang’ si Shiro, tetapi sangat tidak mungkin saya memilih sepeda motor jenis lain (semacam bebek atau skutik), mengingat kondisi jalan di tempat tinggal saya, sebuah jalan perkampungan yang rusak parah. Yang ada dalam pikiran saya, saya harus ganti sepeda motor berjeniskelamin “laki-laki” yang kuat untuk ditunggangi di jalanan rusak, juga nyaman digunakan untuk perjalan jauh, mengingat sebulan sekali saya harus melakukan perjalan Bandung-Cirebon.

 Saat ‘kelahiran’ si Shiro di Cirebon, saya sedang berada di Bandung. Baru seminggu sebelumnya saya kembali ke Bandung, jadi tidak mungkin untuk berangkat ke Cirebon, belum lagi ‘akte’ (baca STNK) si Shiro juga belum diterbitkan oleh catatan sipil (maksud saya kepolisian). Sementara menunggu, saya meminjam skutik milik paman saya untuk saya gunakan bekerja.

 Akhirnya, sebulan berlalu, si Shiro sudah mendapatkan STNK-nya, sayapun berangkat ke Cirebon beserta istri. Berangkat dengan kegamangan.😀 Ya, saya belum bisa mengendarai sepeda motor jenis kopling manual, sementara saya baru saja ‘membeli’nya, masa iya saya harus menukarnya dengan skutik milik paman saya?😀

 Sampai di Cirebon, seolah tidak peduli kepada si Shiro, sama sekali saya tidak menaikinya, walaupun istri sudah beberapa kali meminta saya untuk mencobanya.

 Demi apapun, saya ragu, saya tidak percaya diri, si Shiro nampak seperti binatang buas yang mesti saya taklukan. Tapi, dorongan semangat dari dalam hati, karena bagaimanapun si Shiro adalah teman yang nantinya akan ‘bergumul’ dengan saya tiap hari, akhirnya menumbuhkan keberanian untuk mencoba si Shiro.

 Sayapun mulai menunggangi si Shiro, menyalakan starter, dan menjalankannya, sembari mengingat-ngingat kembali pengalaman belajar mengendarai Yamaha F1ZR delapan tahun silam. Ternyata ingatan saya masih baik, saya mampu mengendalikan si Shiro, terus berjalan menyusuri jalanan kecil yang lumayan sepi, tanpa mengalami mati mesin, semakin jauh kemudian berputar mengarah ke tempat semula (rumah saya). Ya, saya berhasil😀

 Dengan begitu, bertambah sedikit keberanian, akhirnya saya mengajak istri untuk berboncengan mengendarai si Shiro, membawanya ke stadion olahraga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Menghabiskan total waktu 1,5 jam untuk belajar menunggangi si Shiro, puas, kemudian pulang kembali ke rumah untuk beristirahat, karena pagi dini hari kemudian saya sudah harus melakukan perjalan kembali ke Bandung.

 Pagi dini hari, setelah pengalaman belajar mengendarai si Shiro selama 2 (dua) jam, sayapun harus kembali ke Bandung beserta istri dengan menunggangi si Shiro. Khawatir memang, mengingat jarak Cirebon-Bandung sepanjang 150Km, dengan jalan pegunungan menanjak-menurun dan meliuk-liuk, belum lagi bakal banyak menemui kemacetan setelah sampai di Kota bandung nanti, saya takut kalau-kalau saya tiba-tiba lupa cara mengendarai si Shiro😀. Sempat terpikir untuk menyuruh istri menggunakan bus atau travel sementara saya sendirian menunggangi si Shiro😀, tapi istri berhasil meyakinkan dan menumbuhkan kepercayaan diri saya.😀

 Akhirnya, tanpa ada masalah berarti saya berhasil menuju rumah saya di Bandung, si Shiro berhasil dikendarai dengan mulus, bahkan beberapa kali membawa si Shiro mencapai kecepatan 100km/jam, walaupun si Shiro masih dalam masa “inrayen“, odometer baru menunjuk 400Km😀 Saya memang tidak pernah peduli dengan istilah “inrayen“, saat si Jalu masih “inrayen” juga sudah saya ‘geber’ sampai 120km/jam ke Bandung, kemudian nanjak ke bukit perkebunan teh😀.

 Ternyata enak juga bawa si Shiro, mudah-mudahan kau tak sampai ganti majikan, Shiro.

17 responses to “Cerita si Shiro

  1. Aa Ikhwan 22 Maret 2012 15:13 pukul 15:13

    ane aja baru numpak motor kopling tahun 2008 saat ortu membelikan si hitam untuk adik,..ane coba ke belakang sekitar perumahan enak n sempet mati maklum baru pertama😀 , lanjutnya ane coba pinjam buat dibawa ke kantor saat STNK n plat sudah ada, tarikan si hitam terasa beda dengan tarikan supri x ane yg 100cc (ya iyalah beda😀 ) ,..sampe akhirnya tahun 2009 ane meminag si merah sampe sekarang yang berubah menjadi R16:mrgreen:

  2. jnakawara 22 Maret 2012 18:17 pukul 18:17

    anjingnya shinchan ya?? hhe

    kerenn artikelnya..
    baca yang ini juga mzbro..
    http://nakawara.wordpress.com/2012/03/22/angker-aura-tiger-nose-pada-mio-gt-2/

    trimakasiihh…

  3. kharis27 23 Maret 2012 17:06 pukul 17:06

    pengen liat si shironya jadi garah nie

  4. redbike92 24 Maret 2012 18:56 pukul 18:56

    Shiro kan anjing pinternya shinchan yang bisa ngomong waktu di movie-nya
    Selamat bro,
    motor baru rek
    ihyyy😀

  5. gogo 25 Maret 2012 20:39 pukul 20:39

    salam dari vixi ane, auto vajin…

    di film, shiro walaupu anjing ‘rumahan’ tp ketika majikannya dlm bahaya, dia mampu mengalahkan serigala atau kabur dari beruang cokelat..

  6. tovavanjava 26 Maret 2012 12:56 pukul 12:56

    Dulu..waktu pertama belajar motor laki…thun 2004 pke GLpro…pas dijalan mesin mati..dan g bisa netralin gigi..yowes..tak tinggal dijalan motornya..terus sy pulang jalan kaki..manggil bapak saya..:mrgreen:

  7. hari supriono 1 Mei 2012 21:31 pukul 21:31

    sekarang udah g lupa kan kang…..hehehe
    ntar ketuker mana rem depan mana kopling…..xixixi….just kid…..😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: